sumber ilustrasi: gemericikhati.blogspot.com

pemaknaan secara literal terhadap teks-teks Alqur’an seringkali melahirkan pandangan-pandangan yang simplitis dan hitam putih. salah satunya adalah pandangan bahwa poligami adalah ibadah. pandangan ibadah secara sederhana didasarkan dengan bentuk kata perintah. Keibadahan juga diasumsikan, poligami akan membantu memenuhi kebutuhan perempuan, menolong mereka dan menafkahi secara sah dan bertanggungjawab. Dan dianggap sebagai jalan keluar utama bagi laki-laki yang memiliki libido tinggi dan menghindari perzinahan. Dengan dasar kaidah ushul fiqh “menghindari sesuatu yang haram adalah wajib”. Maka poligami -sebagai sarana untuk meninggalkan zina yang haram- juga menjadi wajib, atau setidaknya poligami ibadah.

Akan tetapi keibadahan poligami itu sendiri sebagai relasi perkawinan susah ditemukan rujukannya dalam kitab tafsir diatas. Pada pernikahan biasa, Imam ArRazi memandang pernikahan sebagai kewajiban agama berdasarkan ayat Annisa tersebut. tetapi Imam Asy-syafii (Muhammad bin Indris w:204H) memandang bahwa pernikahan adalah urusan syahwat manusia, sehingga tidak layak dikaitkan dengan perintah dan ajuran agama. Perkawinan karena tidak termasuk yang diwajibkan atau yang disunnahkan. ia hanya masuk kategori sesuatu yang diperkenankan (mubah) untuk dilakukan. Hal ini berdasarkan pada ayat Al-qur’an Annisa ayat 25.

Dalam ayat disebutkan bahwa pernikahan adalah pemenuhan kebutuhan seksual, yang pelampiasannya dianggap sama baik dengan perempuan merdeka maupun budak. karena itu jika seseorang sanggap menahan diri meninggalkan pernikahan menjadi lebih baik.

Sesuatu yang jika ditinggalkan dianggap lebih baik, dalam istilah syari’ah, tidak bisa disebut kewajiban, sunnah, atau dianggap ibadah. ibadah adalah sesuatu yang paling tidak memperoleh apreasiasi ketika dilakukan. Sesutu yang dianggap ibadah meninggalkannya tidak bisa dianggap lebih baik dari yang melakukannya.

dengan demikian ayat ini menafikan sifat keagamaan dari pernikahan, baik sebagai kewajiban maupun kesunnahan. Paling jauh yang mungkin dikatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang diperkenankan agama.

Menurut imam nawawi hukum menikah lebih banyak dikaitkan dengan pertimbangan-pertimbangan lain. Seperti kebutuhan biologis, kemampuan memberi nafkah, ketiadaan gangguan dan penyakit tertentu dari pelaku pernikahan. Sedangkan dalam madzhab syafii, memang pernikahan tidak dianggap sebagai suatu ibadah. Ia justru masuk dalam kategori perbuatan biasa, sama persis seperti jual beli dan jalan kaki. Karena pernikahan juga sah dan dilakukan juga oleh orang-orang non muslim. Sementara ibadah adalah hal-hal berkaitan dengan aktifitas yang ditujukan kepada Allah SWT. Bukan yang ditujukan untuk kepentingan diri dan nafsu.

Ayat Annisa tentang poligami, ia membicarakan perkawinan yang lumrah dilakukan orang-orang arab pada saat itu. Bahkan dalam ungkapan Dr Aisyah bintusy-Syathi, monogami pada saat itu adalah sesuatu yang langka dan hanya dilakukan sedikit orang untuk tujuan  esoteris tertentu. Sungguh tidak logis, jika ada ayat yang turun memerintahkan orang untuk berpoligami pada struktur sosial dimana hampir semua orang sudah terbiasa  poligami. Apalagi jka dikatakan ayat itu datang untuk memproklamirkan nilai “keindahan poligami”. Ayat ini turun untuk memberikan batasan terhadap praktik poligami, maka sangat tidak logis jika ayat ini menegaskan “keibadahan poligami”. Karena ayat ini juga memberikan semangat kritik moralitas keadilan.

Sangat disayangkan ketika pembicaraan poligami akhir-akhir ini luput dari penegasan terhadap

sumber ilustrasi: gemericikhati.blogspot.com

moralitas keadilan bagi perempuan. Pertimbangan keharusan berlaku adil dan tidak mencederai pasangan atau membuatnya menderita, baik fisik maupun mental. pertimbangan yang beredar sekarang adalah sekedar keinginan untuk menghindari perzinahan atau keinginan membantu perempuan lemah, mengangkat status perempuan aau keinginan lain yang tidak prinsipil. tanpa ada perasaan simpatik sedikitpun terhadap perempuan.

konsep kunci keadilan yang dinyatakan al-quran meniscayakan adalah perhatian dan simpati terhadap apa yang menimpa perempuan dalam kasus poligami. ia juga meniscayakan penyertaan perempuan sebagai subjek dalam pembicaraan poligami karena adalah adalah pertimbangan antara hak dan kewajiban yang dalam perumusannnya harus dengan menempatkan perempuan laki-laki dan perempuan setara dan adil.